Kumpulan Fatwa Ulama

Selasa, 01 Mei 2018

Apakah Taubat Itu?

Apakah Taubat Itu?

Sesungguhnya hakikat taubat adalah kembali kepada Allah disertai keteguhan melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari keburukan kepada kebaikan dari jalan setan kepada jalan ar-Rahman (Allah Ta'ala).

Taubat, bukan hanya dari perbuatan dosa saja sebagaimana dikira banyak orang yang menggambarkan bahwa taubat hanya layak dilakukan oleh mereka yang telah terjerumus dalam lembah nista seperti zina, minuman keras dan semacamnya.

Bahkan taubat yang dilakukan manakala seseorang meninggalkan kebaikan yang diperintah-kan lebih penting dari taubat karena perbuatan keburukan yang dilanggar. Ikhlas kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya serta cinta dan harap terha dap rahmat-Nya serta takut dari azab-Nya, sabar dalam melaksanakan perintah-Nya, menjauhkan apa yang dilarang serta menyerah terhadap segala keputusan-Nya dan yang semacamnya dari tindakan lahir maupun batin, semua itu adalah termasuk kewajiban-kewajiban.

Karena itu Allah Ta'ala mengaitkan keberuntungan secara mutlak dengan melaksanakan perkara yang diperintahkan dan meninggalkan perkara yang dilarang.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan bertaubatlah kamu seka/ian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" (QS. an-Nur: 31) Setiap orang yang bertaubat, pasti beruntung. Seseorang dikatakan beruntung jika dia melakukan perbuatan yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yan dilarang-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,
"Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. al-Hujurat: 11)

Mengabaikan perintah adalah tindakan zalim, sebagaimana melaksanakan larangan juga dikatakan zalim. Hilangnya cap "zalim" dari diri seseorang adalah manakala dia bertaubat dari kedua hal terse but. Maka manusia -dari sisi ini- hanya terdiri dari dua macam; Orang yang bertaubat dan orang yang zalim. Tidak ada selain itu. Dengan demikian taubat adalah: Meninggalkan maksiat kepada Allah dan kembali ketaatan, karena Allah-lah yang berhak disembah, dan hakekat penyembahan adalah: rendah dan tunduk kepada yang disembah dengan penuh kecintaan dan penghormatan. Jika seseorang jauh dari ketaatan kepada Rabbnya, maka taubatnya adalah kembali kepada-Nya dan berdiri di pintu-Nya selayaknya orang yang fakir, rendah dan takut di hadapan-Nya"(1)

Footnote:
1)      Majlis Syahri Ramadhan, hal. 338, al-Allamah Ibn Utsaimin rahimahullah.


Rujukan:


At-Taubah, Thariqun ilal Jannah karya Abdul Hadi bin Hasan Wahby, Al-Maktab at-Ta'awuni Lid-Dn'wah wal Irsyad wa Tau'iyatil f aliat bi as-Sulay, Cet. 3 [Edisi indonesia: Taubat Jalan Menuju Surga, hal. 24-26, Penerjemah: Abdullah Haidir, Kantor Kerjasama Da'wah, Bimbingan dan Penyuluhan bagi Pendatang, AL-Sulay p.o BOX 1419 RIYADH 11431,K.S.A Telp. 2410615,Fax2414488-232]