Kumpulan Fatwa Ulama

Selasa, 01 Mei 2018

Surat-Menyurat Antara Laki-laki dan Perempuan (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

Surat-Menyurat Antara Laki-laki dan Perempuan (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

Pertanyaan: 
Jika seorang laki-laki dan seorang wanita saling berkirim surat lalu mereka saling mencintai, apakah ini dianggap haram?

Jawaban:

Perbuatan ini tidak boleh dilakukan karena bisa menimbulkan syahwat antara keduanya dan membangkitkan ambisi untuk saling bertemu dan berjumpa. Banyak terjadi fitnah akibat surat menyurat seperti itu dan menanamkan kesukaan berzina di dalam hati, hal ini bisa menjerumuskan ke dalam perbuatan keji atau menyebabkan terjerumus. Maka kami nasehatkan, barangsiapa yang menginginkan kemaslahatan dirinya dan melindunginya hendaklah tidak melakukan surat menyurat, obrolan atau lainnya yang sejenis, demi memelihara agama dan kehormatan. Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk.


Rujukan:
Fatawa Al-Mar'ah, Syaikh Ibnu Jibrin, hal. 58


Pertanyaan:
Apa hukum surat menyurat antara pemuda dengan pemudi bila surat menyurat itu tidak mengandung kefasikan, kerinduan atau kecemburuan?

Jawaban:

Seorang laki-laki tidak boleh menyurati wanita yang bukan mahramnya, karena hal ini mengandung fitnah, mungkin si pe-ngirim menduga bahwa hal itu tidak mengandung fitnah, tapi sebenarnya setan tetap bersamanya yang senantiasa menggodanya dan menggoda wanita itu.

Nabi telah memerintahkan, barang siapa mendengar dajjal hendaklah ia menjauhinya, beliau menga-barkan, bahwa seorang laki-laki didatangi dajjal, saat itu ia seorang mukmin, namun karena masih bersama dajjal sehingga ia pun terfitnah. Dalam surat menyurat antara para pemuda dengan para pemudi terkandung fitnah dan bahaya yang besar yang harus dijauhi, walaupun penanya menyebutkan bahwa surat-surat itu tidak mengandung kerinduan maupun kecemburuan.

Adapun surat menyurat antara laki-laki dengan laki-laki dan wanita dengan wanita, hal ini boleh, kecuali ada yang membahayakan.
Rujukan:
Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah, hal. 578, Syaikh Ibnu Utsaimin, editor Asyraf Abdul Maqshud.

Siapa yang lebih Takwa kepada Allah? (Fatwa Syaikh Ibnu Baz)

Siapa yang lebih Takwa kepada Allah? (Fatwa Syaikh Ibnu Baz)

Pertanyaan:
Kapan bangsa non Arab lebih mulia dari bangsa Arab?



Jawaban:
Hukum tersebut adalah sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah سبحانه و تعالى dalam firmanNya,

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (Al-Hujurat :13).

Apabila non Arab lebih bertakwa kepada Allah سبحانه و تعالى maka dia lebih utama. Dan seperti ini pula apabila bangsa Arab lebih takwa kepada Allah سبحانه و تعالى, maka dia lebih utama. Keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan adalah dengan takwa. Siapa yang lebih bertakwa kepada Allah سبحانه و تعالى , maka dia lebih utama, sama saja dia dari bangsa ajam (non Arab) atau dari bangsa Arab.
Rujukan:
Majalah al-Buhuts edisi 31 hal. 109. Syaikh Ibnu Baz.

Sepak Bola (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

Sepak Bola (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

Pertanyaan: 
Perusahaan Pepsi Cola mengumumkan niatnya melaksanakan kompetisi sepak bola untuk pemula dari usia 12 hingga 16 tahun, dari pelajar SD hingga SMP, di bawah bimbingan club Inggris. Dia meminta semua sekolah ikut serta untuk memilih satu tim dari mereka setelah dilakukan seleksi kepada mereka. Apa pendapat Syaikh? Apakah semua orang harus mendorong anak-anaknya untuk ikut serta agar bisa pergi ke Inggris? 

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta orang yang mengikuti kebaikan mereka hingga hari pembalasan.

Saya telah mendengar berita ini dan membacanya, isinya adalah bahwa mereka akan memilih tiga tim dari anak-anak kecil. Satu tim hingga usia 12 tahun, satu tim hingga usia 14 tahun, dan satu tim lagi hingga usia 16 tahun. Untuk menyaring di antara mereka orang yang mereka anggap pantas untuk ikut bergabung dalam pendidikan ini, yang akan dilatih di Inggris.

Saya tidak yakin ada orang yang mengizinkan anaknya, belahan jiwanya, buah hatinya, pergi ke Inggris di usia dini ini, atau negeri kafir lainnya. Karena hal itu akan mendatangkan bahaya besar terhadap agama anak tersebut, akhlak dan ibadahnya. Haram hukumnya bagi manusia (Muslim) mengizinkan perusahaan ini membawa anak-anak ini ke Inggris atau negara-negara kafir lainnya. Karena dia adalah pemegang amanah istri dan anak-anaknya, pengurus mereka dan akan ditanya tentang mereka di hari kiamat. Karena firman Allah سبحانه و تعالى,

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." ( At-Tahrim: 6).

Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم,
وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلىَأَهْلِبَيْتِهِوَهُوَمَسْؤُوْلٌ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْمَسْؤُوْلٌعَنْ رَعِيَّتِهِ
"Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan ditanya?kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya tentang kepemimpinannya." [1]

Saya memohon kepada Allah سبحانه و تعالى agar memelihara negara dan generasi muda kita dari tipu daya musuh-musuh kita, memelihara pemerintah kita dengan Islam, dan memelihara Islam dengannya. Semoga Allah سبحانه و تعالى menjadikan kita sebaik-baik pemimpin terhadap anak-anak bangsanya, belahan jiwanya, agar membersihkan mereka dari pemikiran jahat seperti ini. Sesungguhnya Dia Yang Maha Melindungi hal tersebut dan Maha Berkuasa atasnya. Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.


Footnote:
[1] Al-Bukhari dalam al-Istiqradh (2409); Muslim dalam al-Imarah (1829).
Rujukan:
Fatawa Mu'ashirah, hal 64-65, Syaikh Ibn Utsaimin.

Sebab-sebab Terhapusnya Berkah (Fatwa Syaikh Bin Baz)

Sebab-sebab Terhapusnya Berkah (Fatwa Syaikh Bin Baz)

Pertanyaan:
Seorang wanita berinisial (A-'a) dari Riyadh mengatakan dalam pertanyaannya: Saya membaca bahwa di antara dampak dari perbuatan dosa adalah siksaan dari Allah سبحانه و تعالىdan terhapusnya berkah, maka saya menangis karena takut kepada Allah سبحانه و تعالى, berilah petunjuk kepada saya, semoga Allah membalaskan kebaikan kepada Kalian?


Jawaban:

Tidak disangsikan lagi bahwa melakukan dosa termasuk penyebab kemurkaan Allah سبحانه و تعالى dan di antara penyebab terha-pusnya berkah, tertahan turun hujan, penguasaan musuh, sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى,

"Dan sesungguhnya kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. ( Al-A'raf :130).

Dan firman Allah,

"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosa-nya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." ( Al-Ankabut :40).

Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak. Dan tersebut dalam hadits shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلمbahwa beliau bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ
"Sesungguhnya seseorang ditahan rizkinya karena dosa yang dilakukannya." [1]2

Setiap muslim dan muslimah wajib bersikap waspada dari segala dosa dan bertaubat dari dosa di masa lalu disertai berbaik sangka kepada Allah, mengharapkan ampunanNya, dan takut dari murka dan siksaNya, sebagaimana firman Allah dalam kitab-Nya yang Mulia tentang hamba-hambaNya yang shalih,

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." ( Al-Anbiya':90).

dan firmanNya,

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan adzabNya; sesungguhnya adzab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." ( Al-Isra' :57).

Dan firmanNya سبحانه و تعالى,

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah :71).

Disyari'atkan bagi mukmin dan mukminah agar melakukan sebab-sebab yang dibolehkan oleh Allah سبحانه و تعالى. Dan dengan hal tersebut, ia menggabungkan antara takut, raja' (mengharap) dan melakukan segala sebab, serta bertawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى, berpegang kepadaNya untuk mendapatkan yang dicari dan selamat dari yang ditakuti. Dan Allah سبحانه و تعالى yang Maha Pemurah, berfirman,

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidada disangka-sangkanya."(Ath-Thalaq: 2-3).

Dan yang berfirman,

"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (Ath-Thalaq: 4).

Dan Dialah yang berfirman,

"Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." ( An-Nur: 31).

Wahai saudariku, Anda harus bertaubat kepada Allah terhadap semua dosa di masa lalu dan istiqamah (konsisten) dalam ketaatan kepadaNya serta berbaik sangka denganNya, waspada terhadap sebab-sebab kemurkaanNya, bergembiralah dengan kebaikan yang banyak dan akhir yang terpuji. Hanya Allah سبحانه و تعالى yang memberikan taufiq.

Footnote:
[1] HR. Ibnu Majah dalam al-Fitan (4022); Ahmad (21881).
Rujukan:
Majalah al-Buhuts, edisi (31) hal 120-121 Syaikh Bin Baz.

Rekaman-rekaman Islam (Fatwa Syaikh Ibnu Baz)

Rekaman-rekaman Islam (Fatwa Syaikh Ibnu Baz)

Pertanyaan:
Kalian mengetahui, dewasa ini (perusahaan-perusahaan) rekaman Islam melaksanakan peranan besar dalam mengarahkan manusia. Orang-orang jahat telah merancukan sum'ah (pendengaran) mereka, sesungguhnya mereka adalah kaum materialistis? dan lainnya?saya mengharapkan penjelasan kalian kepada kami, sehingga kebenaran tidak samar lagi bagi orang yang memiliki bashirah (mata hati)?


Jawaban:

Tidak diragukan lagi, bahwa semangat untuk merekam ucapan-ucapan yang bermanfaat, nasehat-nasehat, hadits-hadits yang berfaedah. Semua itu itu berguna bagi umat. Dan siapapun yang melakukan hal itu untuk umat, maka dia mendapatkan pahala. Ia harus sabar dan mengharap pahala dalam perkara tersebut. Walau banyak ucapan-ucapan sumbang karena mengikuti para rasul صلی الله عليه وسلمdan orang-orang yang terpilih setelah sebelumnya. Boleh saja menjual kaset-kaset yang meliputi semua itu serta mengusahakan harga yang ringan, yang tidak memberatkan manusia. Untuk memudahkan tugasnya dan manusia (umat Islam) merasakan manfaat pekerjaannya; karena hal tersebut termasuk menyebarkan ilmu, dan memberikan faedah yang menyeluruh.

Saya menganjurkan untuk memiliki kaset-kaset yang baik, membelinya dan mengambil faedah darinya, apabila bagus; karena tidak semua kaset itu bagus. Dan tidak semua orang yang berbicara bisa memberi faedah dan pantas direkam.

Penuntut ilmu harus memilih kaset-kaset yang terbit dari para ulama yang dikenal memiliki ilmu dan tahqiq agar dia mengambil faedah darinya, dan didengar keluarganya, kawan-kawan dan teman-temannya. Dan dia harus meninggalkan kaset-kaset yang membahayakannya dan tidak memberikan manfaat.
Rujukan:
Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Jilid V hal, 77. Syaikh Ibn Baz.

Apakah Taubat Itu?

Apakah Taubat Itu?

Sesungguhnya hakikat taubat adalah kembali kepada Allah disertai keteguhan melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari keburukan kepada kebaikan dari jalan setan kepada jalan ar-Rahman (Allah Ta'ala).

Taubat, bukan hanya dari perbuatan dosa saja sebagaimana dikira banyak orang yang menggambarkan bahwa taubat hanya layak dilakukan oleh mereka yang telah terjerumus dalam lembah nista seperti zina, minuman keras dan semacamnya.

Bahkan taubat yang dilakukan manakala seseorang meninggalkan kebaikan yang diperintah-kan lebih penting dari taubat karena perbuatan keburukan yang dilanggar. Ikhlas kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya serta cinta dan harap terha dap rahmat-Nya serta takut dari azab-Nya, sabar dalam melaksanakan perintah-Nya, menjauhkan apa yang dilarang serta menyerah terhadap segala keputusan-Nya dan yang semacamnya dari tindakan lahir maupun batin, semua itu adalah termasuk kewajiban-kewajiban.

Karena itu Allah Ta'ala mengaitkan keberuntungan secara mutlak dengan melaksanakan perkara yang diperintahkan dan meninggalkan perkara yang dilarang.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan bertaubatlah kamu seka/ian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" (QS. an-Nur: 31) Setiap orang yang bertaubat, pasti beruntung. Seseorang dikatakan beruntung jika dia melakukan perbuatan yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yan dilarang-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,
"Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. al-Hujurat: 11)

Mengabaikan perintah adalah tindakan zalim, sebagaimana melaksanakan larangan juga dikatakan zalim. Hilangnya cap "zalim" dari diri seseorang adalah manakala dia bertaubat dari kedua hal terse but. Maka manusia -dari sisi ini- hanya terdiri dari dua macam; Orang yang bertaubat dan orang yang zalim. Tidak ada selain itu. Dengan demikian taubat adalah: Meninggalkan maksiat kepada Allah dan kembali ketaatan, karena Allah-lah yang berhak disembah, dan hakekat penyembahan adalah: rendah dan tunduk kepada yang disembah dengan penuh kecintaan dan penghormatan. Jika seseorang jauh dari ketaatan kepada Rabbnya, maka taubatnya adalah kembali kepada-Nya dan berdiri di pintu-Nya selayaknya orang yang fakir, rendah dan takut di hadapan-Nya"(1)

Footnote:
1)      Majlis Syahri Ramadhan, hal. 338, al-Allamah Ibn Utsaimin rahimahullah.


Rujukan:


At-Taubah, Thariqun ilal Jannah karya Abdul Hadi bin Hasan Wahby, Al-Maktab at-Ta'awuni Lid-Dn'wah wal Irsyad wa Tau'iyatil f aliat bi as-Sulay, Cet. 3 [Edisi indonesia: Taubat Jalan Menuju Surga, hal. 24-26, Penerjemah: Abdullah Haidir, Kantor Kerjasama Da'wah, Bimbingan dan Penyuluhan bagi Pendatang, AL-Sulay p.o BOX 1419 RIYADH 11431,K.S.A Telp. 2410615,Fax2414488-232]

Keutamaan Taubat Dalam Al-Qur' an Dan Sunnah

Keutamaan Taubat Dalam Al-Qur' an Dan Sunnah

Allah Ta'ala telah memerintahkan dalam kitab-Nya, begitu pula Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam, agar kita beristighfar dan bertaubat kepadaNya, Karena "kebutuhan makhluk terhadap hal tersebut (taubat) sangat besar, setiap orang butuh untuk memahamiya kemudian beramal sesuai tuntutan-tuntutannya" (1)

Allah Ta'ala berfirman,
"Hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kalian, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa hari kiamat." (QS. Hud: 3)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa istighfar dan taubat kepada Allah Ta'ala dari dosa menyebabkan datangnya kebaikan dari Allah kepada orang yang melakukannya hingga waktu yang telah ditentukan. Yang dimaksud dengan Mata'an Hasanan (dalam ayat di atas) adalah: "keluasan rizqi, kehidupan yang tentram dan keselamatan di dunia" (2).

 Allah Ta'ala berfirman,
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. an-Nur: 31)

Ayat di atas menunjukkan bahwa keberuntungan hanya diberikan kepada mereka yang bertaubat.

Allah Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. al-Baqarah: 222)

At-Tawwab adalah: orang yang suka bertaubat.

Sebagaimana diketahui, bahwa orang yang suka bertaubat menunjukkan bahwa dia banyak berdosa. Dari sini kita dapat memahami bahwa, betapapun banyaknya dosa seseorang, jika dia mengiringi setiap dosa dengan taubat, maka sesungguhnya Allah Ta'ala akan mencintainya.

Ini merupakan perkara yang luar biasa, "Karena cinta Allah kepada seorang hamba, jauh di atas apa yang dibayangkan orang beriman, dan inilah perkara yang mestinya menjadi keinginan paling utama." (3)

Jika demikian halnya kedudukan taubat, maka para pelakunya sungguh sedang melakukan ibadah yang sangat mulia dan paling dicintai Allah Azza wa Jalla.

Allah Ta'ala berfirman,
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal sa/eh, maka kejahatan mereka Allah ganti dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Furqan: 70)

Ayat ini merupakan berita gembira yang paling nyata bagi orang-orang yang bertaubat. Ini merupakan "Balasan yang setimpal bagi orang yang sangat menyesali keburukannya. Setiap kali dia ingat dosanya, bertambah ketakutan dan rasa malunya kepada Allah dan kemudian bersegera beramal shaleh.

"Siapa yang kondisinya seperti ini, maka pahitnya penyesalan atas dosa yang dia rasakan terasa jauh berlipat-lipat dibanding manisnya perbuatan dosa yang pernah dia lakukan. Maka dengan demikian, setiap dosa yang dia lakukan akan menjadi sebab lahirnya amal shaleh yang akan menghapus dosa-dosanya." (4)

Firman Allah Ta'ala,
"Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Ma'idah: 74)

Ayat ini merupakan seruan Allah untuk bertaubat, karena Dia akan mengampuni dosa orang yang bertaubat, walaupun sepenuh awan di langit. Allah mengasihi mereka dengan menerima taubatnya dan menggantikan keburukan mereka dengan kebaikan.

Allah awali seruan taubatnya dengan ungkapan yang sangat lembut dan penuh kasih, karena besarnya pahala dan manfaat di dalamnya, sebagaimana firman-Nya:
 "Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah?"

Allah Ta'ala berfirman,
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (QS. Thaha: 82)

Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dari dosa-dosanya, serta beriman dengan ke-Esaan Allah serta Keagungan Sifat-Sifat-Nya, lalu segera mengejar ridha-Nya dengan amal shaleh, selalu mencari petunjuk dan menjaga taubatnya hingga wafat. (5)

Allah Ta'ala berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya." (QS. at-Tahrim: 8) Dalam ayat ini Allah Ta'ala memerintahkan mereka untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya dengan taubat yang ikhlas dan jujur, yang dapat menghapuskan dosa-dosa sehingga mereka yang bertaubat dapat hidup tenteram dan tercegah dari perbuatan hina yang selama ini dia lakukan." (6)

Taubat Nashuha adalah: Taubat dari dosa dan tidak kembali lagi melakukannya.

Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Setiap anak Adam melakukan dosa, ·dan sebaikbaik orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat." (7)

Ibnu Abbas radhiallahuanhuma berkata, "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Seandainya Anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya dia mengharapkan yang ketiga, tidaklah kepuasan (terhadap dunia) dapat memenuhi hati mereka kecuali jika oleh debu (jika telah mati), dan Allah akan menerima mereka yang bertaubat." (8)

Aghar bin Yasar Radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Wahai Manusia!, bertaubatlah kepada Allah, sungguh aku bertaubat dalam sehari seratus kali" (9)

Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sungguh Allah sangat gembira dengan taubat sang hamba kepada-Nya, melebihi kegembiraan salah seseorang yang mengendarai hewan tunggangannya di sebuah padang nan gersang. Kemudian hewan tunggangannya tersebut kabur, padahal di atasnya terdapat persediaan makan dan minumnya. Latu dia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawahnya dengan rasa putus asa untuk mendapat kembali hewan tunggangannya itu. Namun ternyata, tiba-tiba hewan tersebut sudah berada di hadapan-nya, maka segera dia pegang tali kendali hewan itu, lalu berkata -karena saking gembiranya, 'Ya Allah engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu, (dia) salah ucap(10) karena saking gembiranya." (11)

Ilustrasi tersebut adalah gambaran kegembiraan paling besar. Seandainya di dunia ini ada kegembiraan lebih besar dari itu, niscaya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan menjadikannya sebagai contoh. Kegembiraan Allah dengan hambanya yang bertaubat melebihi kegembiraan orang tersebut dengan kendaraannya. (12)

Hanya bagi Allah segala puji dan sanjungan, betapa tinggi kebaikan-Nya, betapa banyak Kemurahan-Nya dan betapa luas nikmat-Nya.
 "Kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya tersebut -padahal orang itu belum melakukan ketaatan yang sebanding- merupakan petunjuk keutamaan dan kedudukan taubat di sisi-Nya, dan bahwa taubat merupakan salah satu bentuk ibadah kepada-Nya yang paling utama" (13)

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran tentang adanya sifat gembira bagi Allah Azza wa Jalla dan Sempurnanya kasih sayang Allah Jalla wa 'Ala terhadap hamba-Nya; di mana Dia mencintai taubat orang yang maksiat kepada-Nya dengan cinta yang besar. Orang itu lari dari Allah, kemudian berhenti lalu kembali kepada-Nya, sehingga Allah bergembira dengan kegembiraan yang sangat besar.

Dari sisi perilaku, hadits ini mengajarkan kita untuk selalu berupaya bertaubat setiap kali kita melakukan sebuah dosa .

Jika anda telah mengetahui bahwa Allah sangat gembira tiada tara dengan taubat anda, maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut akan mendorong anda untuk selalu mengupayakan taubat kepadaNya. (14)

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak ada dosanya." (15)

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Seandainya kalian berdosa hingga seluas langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya taubat kalian akan diterima." (16)

Hadits ini menunjukkan bahwa "Allah menerima permohonan ampun dari orang yang meninggalkan dosa, bahkan tidak hanya sekali, jika dia mengulangi lagi istighfarnya. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar dan layak disambut dengan senang dan pujian oleh hamba Allah karena luas dan kasih sayang-Nya rahmat Allah kepada hambaNya." (17)


=================
1)      Lihat, Jami' al-Ulum wa al-Hikam, 1/451
2)      Lihat Adhwa'ul Bayan, 3/78
3)      Majma' al-Fawa'id, hal. 215, al-Alla mah as-Sa'dy rahimahullah.
4)      Jami' al-Ulum wa al-Hikam, 1/300
5)      Al-Majmu'ah al-Kamilah Iii Mu'allafaat al-Allamah as-Sa'dy (VI/178- 179)
6)   Tamyizul-Mahzuzin 'anil Mahrumin (Hal. 316), al-Ma'shumi.
7)      Riwayat Tirmizi, no. 2499, dihasankan oleh al-Albany rahimahullah dalarn Shahih Sunan Tirmizi, no. 2029
8)      Riwayat Bukhari, no. 6436, Muslim, no. 1049
9)      Riwayat Muslim, no. 2702
10)   Serharusnya yang dia ucapkan adalah: "Ya Allah, Engkau adalah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu"
11)   Riwayat Muslim, no. 2747
12)   Thariqul-Hijratain, hal. 439.
13)   Ibid (hal. 423-424)
14)  Syarh al-Aqidah at-Washitiah (hal. 405)
15) Riwayat Ibnu Majah, no. 4250, dihasankan oleh al-Albany rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Maja, no. 3427.
16) Riwayat Jbnu Majah (4248), dishahihkan oleh al-Albany rahimahullah, dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3426
17)   Tuhfatuz-Zakirin, hal. 257

Rujukan:
At-Taubah, Thariqun ilal Jannah karya Abdul Hadi bin Hasan Wahby, Al-Maktab at-Ta'awuni Lid-Dn'wah wal Irsyad wa Tau'iyatil f aliat bi as-Sulay, Cet. 3 [Edisi indonesia: Taubat Jalan Menuju Surga, hal. 13-23, Penerjemah: Abdullah Haidir, Kantor Kerjasama Da'wah, Bimbingan dan Penyuluhan bagi Pendatang, AL-Sulay p.o BOX 1419 RIYADH 11431,K.S.A Telp. 2410615,Fax2414488-232]